SURATDOKTER.com– Rekaman video yang memperlihatkan seorang kakek berprofesi sebagai tukang ojek diduga merayu siswi SMP di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, viral di media sosial.
Dalam video yang beredar pada Kamis, 16 April 2026, tampak korban merekam secara diam-diam percakapan dengan pelaku. Dari rekaman tersebut, terdengar kakek itu beberapa kali meminta peluk dan cium kepada korban yang masih berstatus pelajar.
Peristiwa itu disebut terjadi di rumah korban, saat pelaku mengantar pulang dan masuk ke area rumah.
Situasi kemudian berubah menjadi tegang ketika ibu korban pulang dan mendapati anaknya dalam kondisi menangis..Baca Juga: 155 Siswa Diduga Keracunan MBG di Anambas, Orang Tua Ikut Jadi Korban hingga Faskes Penuh
Modus Awal: Menawarkan Jasa Antar Jemput
Dari percakapan dalam video, pelaku awalnya menawarkan jasa antar-jemput sekolah kepada korban.
Ia mencoba membangun kedekatan dengan dalih membantu aktivitas sekolah korban, sebelum akhirnya mengarah pada permintaan fisik yang tidak pantas.
Pelaku terdengar berulang kali membujuk korban dengan kalimat yang menekankan “keikhlasan”, meski jelas berada dalam situasi yang membuat korban tidak nyaman.
Korban bahkan sempat memberikan uang ongkos ojek, namun pelaku tetap melanjutkan bujukan untuk melakukan kontak fisik.
Ibu Korban Murka, Warga Turut Menginterogasi
Setelah mengetahui kejadian tersebut, ibu korban bersama warga langsung meminta penjelasan dari pelaku.
Ibu korban mengungkapkan bahwa anaknya tidak hanya diminta peluk dan cium, tetapi juga mengaku sempat disentuh pada bagian tubuh tertentu.
Baca Juga: Jari Kelingking Anak Putus Diduga Digigit Monyet, Ini Kronologinya
Namun, pelaku terus membantah dan berdalih bahwa dirinya hanya menawarkan jasa ojek seperti biasa.
Meski dicecar berbagai pertanyaan, pelaku tidak memberikan penjelasan yang konsisten terkait tindakannya di dalam rumah korban.
Dampak Psikologis pada Korban Tidak Bisa Diabaikan
Kasus seperti ini tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga dapat menimbulkan tekanan mental pada korban, terutama karena melibatkan anak di bawah umur.